Skip to main content

Mengapa merokok tidak dilarang menyebar di Indonesia jika itu membahayakan kesihatan?

Manfaat rokok.xyz - Rokok bukanlah risiko bagi kesihatan jika hanya dipamerkan atau dipamerkan, tetapi rokok mempunyai risiko membakar pisau kerana pencemaran asap. Lebih-lebih lagi, membakar dan menghirup sangat berisiko untuk kesihatan perokok aktif atau pasif kerana nikotin dalam tembakau dan merokok dan juga dapat membuat pengguna ketagih. Kerajaan tidak melarangnya, kerana cukai eksais rokok sangat membantu meningkatkan pendapatan negara untuk pembangunan kesejahteraan rakyat. Juga jika dilarang oleh petani tembakau dan pekerja kilang rokok, semua jutaan orang yang hidup dari proses mendapatkan rokok dari petani, kilang, orang perdagangan akan kehabisan mata pencarian mereka. Makanan atau bahan yang berisiko untuk kesihatan seperti formalin, dapat disita atau ditarik keluar dari pasaran. Lebih-lebih lagi, pembuatnya juga ditangkap oleh polis karena menjadi Agen Sbobet online. Tetapi mengapa rokok yang jelas merupakan risiko kesihatan tidak mendapat rawatan yang sama? Itulah masa

Yang Memperparah Kemiskinan Bukan Perokok tapi Kebijakan Pemerintah oleh - manfaatrokok.xyz

Halo sahabat selamat datang di website manfaatrokok.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Yang Memperparah Kemiskinan Bukan Perokok tapi Kebijakan Pemerintah oleh - manfaatrokok.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Kamis, 25/6, Kompas.com menerbitkan berita berjudul “Ahli: Konsumsi Rokok Penduduk Miskin Meningkat, Ini Memperparah Kemiskinan”. Sebuah judul, dengan membawa mandat “ahli”, yang ingin menegaskan bahwa kemiskinan yang kian parah disebabkan oleh orang miskin yang tidak mau berhenti merokok.

Berita tersebut memaparkan pendapat Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Pungkas Bahjuri Ali, yang juga telah disampaikan pada Draf Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Teknokraktik 2020-2024. Pungkas menyebut, presentasi tinggi konsumsi rokok di Indonesia ternyata dilakukan oleh kelompok pendapatan rendah. Berdasarkan jenis pekerjaannya, terdata proporsi perokok tinggi adalah nelayan mencapai 70,4 persen dan petani atau buruh 46,1 persen.

Menurutnya, jenis rokok kretek-filter adalah pengeluaran terbesar pada rumah tangga miskin setelah beras. Ia menegaskan, bahkan lebih tinggi dibanding untuk belanja protein, misal telur, daging, susu dan kebutuhan kesehatan lainnya. 

Ia juga mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS), yang menunjukkan rincian perbandingannya:

  • Pengeluaran konsumsi rokok 2,6 kali dari pengeluaran untuk telur dan susu
  • pencapai 7 kali lipat dari pengeluaran belanja daging
  • Mencapai 3,8 lebih besar daripada pengeluaran untuk kebutuhan kesehatan lainnya.

Berlandas pada data dan kebenciannya pada rokok itu, ia menganjurkan para perokok untuk berhenti lantaran tidak hanya berkaitan dengan kesehatan penggunanya saja, melainkan juga berpengaruh terhadap kondisi yang memperparah urusan ekonomi atau kemiskinan. Mungkin maksudnya, kalau perokok sakit parah dan menggunakan BPJS, bisa memicu kerugian negara. Meski kita sama-sama tau, kalau defisit BPJS juga ditopang oleh pajak rokok.

Mari coba kita bedah apa yang  dikatakan Sang Ahli tersebut. Ketika ada data soal kemiskinan atau seseorang itu dikatakan miskin, rasanya selalu menggelitik. Dengan ukuran apa seseorang itu dikatakan miskin. Daya beli rendah masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, buruh atau petani? 

Jika masyarakat di pedesaan dikatakan miskin lantaran daya belinya rendah atau lantaran belanja daging, telur dan kebutuhan kesehatan lebih kecil ketimbang rokok, tentu saja ini kurang tepat. 

Di pedesaan, nelayan bisa menangkap ikan sendiri, jadi tidak perlu beli daging. Yang bukan nelayan, rata-rata punya ternak. Jika pengen sesekali makan ayam, tinggal tangkap dan sembelih. 

Asal orang-orang elit tau, masyarakat lebih sehat konsumsi makanannya, meski hampir setiap hari lauknya hanya sayuran. Di pedesaan juga banyak tumbuhan yang dapat dimanfaatkan menjadi obat-obatan tradisional, dan masyarakat punya kearifan bagaimana memanfaatkan alam, tanpa merusaknya, menjadi semacam obat untuk menyembuhkan. Masyarakat juga bekerja dengan mengeluarkan keringat, tidak kena angin AC belaka atau pulang-pergi berhadapan dengan polusi kendaraan.

Mengukur kemiskinan bukanlah sebuah candaan. Akurasi data akan menentukan ketepatan pemerintah dalam membuat kebijakan, atau setidaknya tidak salah alamat kalau sedang bagi-bagi bantuan. 

Menentukan garis kemiskinan, sebagaimana yang diungkap Profesor Ekonomi Edmond D. Villani di Universitas Georgetown, yang sebelumnya adalah direktur departemen penelitian di Bank Dunia, Martin Ravallion, “dalam praktik pengukuran kemiskinan, menentukan garis kemiskinan merupakan langkah yang paling sulit dan kontroversial dalam membangun profil kemiskinan, karena indikator ini dibangun dari data survei”.

BPS, kita tahu, dalam menentukan banyaknya penduduk miskin pun, melakukannya berdasar dari Susenas yang dilakukan dengan metode sampling, bukan pendataan seluruh populasi. Karenanya, penduduk miskin dilihat berdasarkan presentase. Nilai pada presentase itulah yang kemudian dikonversi oleh BPS menjadi jumlah dengan mengkalikan populasi. 

Metode tersebut akhirnya selalu mendapat serangan berbagai pihak. Ini persis yang dituliskan Ravallion, pengukuran kemiskinan seringnya memang menjadi kontroversi karena menggunakan survei dalam perhitungannya. Survei memang tidak bisa memberikan data lengkap, seperti nama dan alamat penduduk miskin, hasilnya hanya dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan kebijkan maupun pengukuran keberhasilan/kegagalan suatu program. 

Sampai sini, Sang Ahli jangan main-main melabeli seseorang itu miskin atau tidak, atau bahkan dengan tegas mengatakan “rokok penyebab kemiskinan”, jika masih banyak bantuan yang salah alamat.

Tapi ternyata tidak berhenti sampai di situ, selain kemiskinan, rokok dianggap menjerumuskan seseorang pada situasi kesehatan yang lebih buruk. Menurutnya, sebagaimana para pakar kesehatan juga sering menggembar-gemborkan, merokok tidak secara seketika dapat membuat seseorang mengalami sakit pada fisiknya. Perokok berisiko terkenan penyakit katastropik, penyakitâ€"penyakit yang membutuhkan biaya tinggi dalam pengobatannya serta memiliki komplikasi yang dapat mengancam jiwa. 

Sudah miskin, sakit pula. Yang akhirnya hanya akan membebani biaya kesehatan negara yang sering defisit itu. Bantahan soal ini, silahkan baca:

Padahal kalau mau fair, salah satu penyebab kemiskinan adalah kebijakan pemerintah yang ugal-ugalan. Misalnya saja soal kenaikan cukai, sebuah kebijakan untuk pemerintah secara instan menggenjot pendapatan negara, tapi berimbas pelan-pelan membunuh hulu hingga hilir industri hasil tembakau.

Hidup sepertinya bukan soal kesehatan saja, banyak lini lain yang harus dihitung dan dipertimbangkan matang-matang. Pun kalau mau ngotot soal kesehatan, bukalah pikiran untuk mengapresiasi penelitian-penelitan bahwa tembakau punya sejarah panjang, bukan hanya pada sisi sosio-kultur, tapi juga kesehatan. Atau setidaknya turun ke lapangan, lihat orang-orang sepuh di desa, yang mungkin lebih bahagia, perkasa bekerja, tidak terlalu berharap pada santunan negara, dan tetap merokok sembari mengeringkan keringatnya.

Kalau tak bisa membantu perokok, petani, buruh, setidaknya jangan jadi hama….

Itulah tadi informasi mengenai Yang Memperparah Kemiskinan Bukan Perokok tapi Kebijakan Pemerintah oleh - manfaatrokok.xyz dan sekianlah artikel dari kami manfaatrokok.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Comments

Popular posts from this blog

XPLORE CACAO, SKM FULL FLAVOR PERTAMA DI INDONESIA DENGAN CACAO (30%) CIGARETTE PAPER DARI KT&G

Selamat malam, Sudah sekitar hampir satu bulan saya tidak menulis pada blog tercinta kali ini. Banyak waktu yang sudah terlewatkan sejauh ini, namun saya berusaha mengejar ketertinggalan itu dengan sebaik mungkin. Meskipun memang Dunia saat ini sedang mengalami pandemik COVID-19, hal ini tentunya tidak membuat admin menyerah dalam menjalani hidup. Salah satu hal yang bisa dilakukan ialah menulis, dan ini merupakan hobi yang cukup menyenangkan. Review kali ini ialah rokok yang sejatinya baru saja diluncurkan sekitar awal Juni ini. Peluncuran rokok ini dilakukan sekitar tanggal 2 Juni 2020, di saat pandemik COVID-19 masih mewabah. Saya agak heran secara pribadi ketika KT&G Indonesia pada akhirnya bisa meluncurkan terobosan terkini pada kategori yang minim inovasi ini, mengingat banyak pabrik rokok menunda sementara peluncuran produk terbarunya.  Rokok ini kita namakan sebagai Xplore Cacao, mengingat kemungkinan besar masih banyak varian Xplore yang akan diluncurkan kemba

Prof. Dr. Sutiman Bicara Tembakau, Sebagai Obat atau Racun? oleh - manfaatrokok.xyz

Halo sahabat selamat datang di website manfaatrokok.xyz , pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Prof. Dr. Sutiman Bicara Tembakau, Sebagai Obat atau Racun? oleh - manfaatrokok.xyz , kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca Selama ini banyak perdebatan yang terjadi tentang daun tembakau apakah racun atau obat. Pada kesempatan kali ini coba dihadirkan pendapat Prof. Dr. Sutiman B. Sumitro, Guru Besar Biologi Sel Universitas Brawijaya Malang. Menurutnya, obat dan racun adalah dua sisi mata uang. Punya arah beda bahkan berlawanan namun sejalan. Setiap obat sesungguhnya memiliki sifat racun. Setiap racun memiliki potensi sebagai obat. “Dengan demikian pendaya-manfaatan bahan obat dan racun tergantung kecukupan pengetahuan kemanusiaannya”. Sains yang dikembangkan dengan cara bernalar dan kebenaran dibuktikan melalui fakta berupa data hasil pengamatan empiris dan bersifat inderawi. Kegiatan memahami

Kretek Adalah Salah Satu Produk Jamu Mahakarya Putra Bangsa oleh - manfaatrokok.xyz

Halo sahabat selamat datang di website manfaatrokok.xyz , pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Kretek Adalah Salah Satu Produk Jamu Mahakarya Putra Bangsa oleh - manfaatrokok.xyz , kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca Banyak orang mengartikan Jamu sama dengan obat dalam. Kata jamu tergolong bahasa Jawa ngoko (pasaran), sedang kromo inggilnya (bahasa halusnya) jamu adalah “Djampi”. Kok bisa jamu disamaartikan dengan obat? Saya tidak membahas terlalu detail persamaan arti jamu dan obat. Jelasnya, ketika bicara jamu masyarakat paham bahwa itu obat. Dan produk kretek adalah olahan tembakau dan cengkeh diracik untuk obat pada abad 19 oleh anak bangsa bernama H. Djamhari. Menurut Klinkert dalam kamus bahasa Melayu Belanda, jamu di maknai minuman atau minuman herbal. Dalam kamus KBBI dijelaskan kalau kata “jamuan” itu asal kata dasar dari “jamu”. Sedangkan jamuan punya arti hidangan atau barang yang dihidangkan